Belajar Menjadi Individu yang Lebih Baik dari Alam

Gunung, pada hakekatnya lekat dengan perjalanan kisah hidup manusia sejak awal kehidupan makhluk hidup yang memiliki otak dan rasa di muka bumi ini. Ia selalu eksis dalam masa sebelum, sedang, hingga setelah kehidupan manusia. Sakral.

Sebegitu sakralnya gunung. Maka sering disebut “Ibu Gunung & Ayah Laut”. Bukan hanya perumpamaan belaka bagi siapa saja yang meresapi, meyakini, dan menaruh respek yang tinggi. Bagai lorong waktu, ketika memasuki gerbang pendakian, kita seakan dibawa melintasi perjalanan waktu yang besar, menapak tilasi kehidupan manusia di masa terdahulu. Apapun Gunung nya, sebesar apapun gunungnya, setinggi apapun gunungnya.

Maka itu, selain mempersiapkan perlengkapan perbekalan, teguhkan pula niat dan mentalmu ketika hendak melakukan ibadah pendakian. Puncak gunung takkan berpindah, karena puncak gunung bukan tujuan utama, melainkan hadiah perjamuan atas ketabahan nan ketangguhanmu dalam prosesnya, kembali pulang kerumah dengan selamat lah tujuan utam kita mendaki. Taruh hurmat yang tinggi, pada gunungnya, alam sekitarnya, rekan, perlengkapanmu dan tentunya respek pada diri sendiri. Sebab gunung memilih dan mengundang siapa yang berhak menikmati suguhan mewah dipuncaknya.

Bukankah selalu membubuhkan tawa dan sedikit gila dalam tiap laku proses adalah sebagian bumbu2 mujarab pelengkap bahan bakar keberhasilan? Aku sih yes. Rata-rata tokoh-tokoh besar itu terlahir berkat gagasan & kerja yang gila.

Bagi saya itu salah satu perwujudan rasa syukur. Mengandung pemahaman apa yang kita karyakan dan fokuskan kudu selalu dilandasi dan dibalut sebuah luapan rasa bahagia. Saya meyakini bahwa rasa bahagia itu bukan hanya saja sasaran, bukan pula sekedar tujuan. Tapi dapat berdiri sendiri. Sama seperti syukur. Tumbuh berkembang dari dalam. (Asal kamu mau mempersilahkannya!). Mendampingi dan membuat tiap tindak laku kita menjadi lebih hidup. Seimbang. Ini hukum timbal-balik tarik-menarik. Semakin sering bersyukur, bahagia dalam berkarya, dalam tanda kurung disini juga tak mengeluh, menggandakan tawa, maka akan mendatangkan lagi kebahagiaan-kebahagiaan baru yang entah secara misteri darimana datangnya dan kapan datangnya.

Lalu bagaimana jika tetiba terjatuh? Tetap senyum, tertawakan lukamu. Jangan mau dikalahkan olehnya. Bahkan setelah terjatuh pun, tetap yakin bahwa ketika bangkit banyak ilmu baru yang dapat kita kantongi, menjadi suntikan kekuatan baru, pendewasaan mempertebal hatur syukur, maka kebahagiaan-kebahagiaan baru pun akan memburumu. Mengutip penggalan lirik karya sobat saya di single solo nya “Dunia Orang Dewasa” bahwasanya : “Setelah luka, ada hujan tawa..”

Maka itu perbanyak tawamu, kuadratkan hatur syukurmu, lipat gandakan kegilaanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *